TINDAKAN KRIMINAL PELAJAR TERLENGKAP

Posted by leonardo gilang Sabtu, 23 Februari 2013 2 komentar
DOWNLOAD ARTIKEL TINDAKAN KRIMINAL PELAJAR LENGKAP





Pelajar Terlibat Tindak Kejahatan Tetap Diproses Hukum
 
Warta Kota/Adhy Kelana
Dua kelompok siswa SMA tawuran seusai ujian nasional (UN) di Jalan Mampang Prapatan Raya, Jakarta, Rabu (18/4/2012). Tawuran yang terjadi di tengah jalan dan menggunakan berbagai sejata tajam ini berhasil dibubarkan warga sekitar dan para pengendara sepeda motor. 

Berita Lainnya
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Theresia Felisiani
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Terkait adanya beberapa kasus tindak kejahatan yang dilakukan oleh pelajar seperti pencurian, perampokan, maupun perkelahian akan tetap diusut oleh kepolisian.
Namun dalam penahanan dan penanganannya tentunya berbeda dengan pelaku dewasa.
"Tata cara merampok, alat yang digunakan, memepet korban ini masuk dalam kriminal. Di satu sisi akan diproses sesuai dengan hukum. Dan di sisi lain akan diperlakukan sebagai pelajar sesuai umurnya," terang Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto, Rabu (9/5/2012).
Dijelaskan Rikwanto, proses penyidikan akan tetap diusut, namun kalaupun dilakukan penahanan, ruangannya dipisahkan dengan tahanan biasa tidak dicampur. Dan bisa juga ditahan di Lapas Anak.
"Tak hanya itu, nantinya untuk proses penahanan polisi juga akan berkoordinasi dengan Komnas Anak dan pemerhati anak. Kalau bisa dibimbing ya dibimbing," ujar Rikwanto.
Untuk diketahui kasus tindak kriminal yang dilakukan oleh pelajar salah satunya dua pelajar yang tercatat sebagai siswa SMP swasta di Kabupaten Bekasi yang ditangkap petugas Polsek Cikarang Pusat yakni IT (15), dan IH (15) saat merampok helm di Jalan Boulevard, Kota Delta Mas, Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi.
Lebih lanjut Kabag Humas Polresta Bekasi Kabupaten AKP Bambang Wahyudi saat dihubungi mengatakan, aksi itu terjadi Sabtu 5 Mei 2012 pukul 23.30 WIB.
"Kedua pelaku mengendarai sepeda motor Satria FU bernopol B 3744 FFL melakukan pengintaian di lokasi kejadian untuk mencari calon korbannya."
"Tak lama kemudian melintaslah Ahmad Sabar (24), mengendarai sepeda motor Yamaha Jupiter Z bernopol B 6560 FXZ. Dan kebetulan korban menggunakan helm yang modelnya serupa dengan milik salah satu pelaku yang hilang di area parkir sekolah," papar Bambang.
Kemudian kedua pelaku melakukan pengejaran dan memepet sepeda motor korban hingga terperosok ke aspal. Saat korban jatuh, kedua pelaku langsung mengambil paksa helm korban. Korban pun sempat melawan dan terjadi tarik menarik memperebutkan helm antara pelaku dan korban.
Tak sampai di situ, seorang pelaku juga mengeluarkan sebilah senjata tajam jenis parang. Dan mengancam akan mengambil sepeda motor korban, bila korban tak menyerahkan helm tersebut.
Untungnya usaha kedua pelaku berhasil digagalkan oleh Listo Danan Jojo, pengemudi sebuah minibus yang kebetulan melintas di lokasi kejadian. Kedua pelaku pun langsung digiring ke Polsek Cikarang Pusat.

Jangan Biarkan Pelajar Merampok




PERILAKU beberapa pelajar belakangan ini sudah di luar batas toleransi. Tidak  saja tawuran, tetapi sudah melakukan tindak kriminal seperti merampok dan membunuh.
Kasus terakhir  dilakukan dua pelajar SMA di Jakarta Barat, Rabu (7/11) malam. SP,17, dan pacarnya YN, 17, awaln ya berniat merampok rumah Cong Djep Tjong di Perumahan Taman Surya Kalideres, Jakarta Barat. Karena aksinya kepergok, kedua remaja ini panik dan membunuh pembunuh pemilik rumah. Yang membuat kita tercengang, sejoli ini merampok karena butuh uang Rp2 juta untuk mengganti rugi kepada orang yang ditabrak.
Lepas dari latar belakang dan motivasi, perbuatan kedua remaja ini harus mendapat hukuman setimpal. Meski dalam proses dan penanganan harus tetap memperhatikan statusnya sebagai pelajar, bukan berarti keduanya harus dimanjakan. Pembinaan yang mengarah kepada efek jera menjadi prioritas karena itulah tujuan proses pemidanaan.
Hanya saja, perbedaan perlakuan tidak boleh dikesampingkan mulai dari pemeriksaan oleh penyidik hingga persidangan. Begitu juga penempatan selama yang bersangkutan dalam tahanan. Ketentuan ini berlaku universal.
Yang hendak kita sampaikan adalah terjadinya fenomena tindak kriminalitas yang dilakukan kalangan pelajar. Ada kecenderungan, jumlah pelajar yang terlibat tindak kejahatan meningkat, Begitu juga kualitas kejahatan yang dilakukan. Jika sebelumnya masih dapat dikatakan sebagai kenakalan misalnya tawuran kelompok, kini dalam proses tawuran pun tak jarang terjadi pembunuhan.
Kalau sebelumnya hanya iseng memalak, kini sudah merampas dan merampok. Bahkan, seperti yang terjadi di Jakarta Barat, dua jenis kejahatan dilakukan sekaligus, yakni merampok dan membunuh.
Ditelusuri lebih jauh lagi, motif yang dilakukan tidak sekadar mencari identitas diri, tetapi sudah mencari keuntungan.
Apakah merampok itu sudah menjadi kebutuhan? Tentu saja tidak. Tetapi bahwa apa yang dilakukan untuk mendapatkan uang (harta) adalah fakta yang tidak terbantahkan.
Fenomena inilahyang mestinya harus segera dikaji oleh para ahli di bidang pendidikan dengan melibatkan sosiolog, psikolog dan pakar budaya.
Banyak pakar mengatakan bahwa pembinaan harus dimulai sejak awal, saat memasuki usia sekolah dasar. Jika perlu pembentukan watak dimulai sejak taman kanak – kanak.
Satu hal yang patut menjadi perhatian bersama adalah mencegah terbentuknya geng – geng anak sekolah. Sebab, geng sekolah semacam  ini jika tidak terarah bisa terselip perilaku negatif seperti bersikap eksklusif, saling pamer kekuatan dan persaingan tidak sehat. Sikap – sikap negatif seperti inilah yang harus dicegah dan dikendalikan agar tidak menanamkan embrio kejahatan. (*)  
PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA DENGAN KEKERASAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK PELAJAR SEKOLAH DI BAWAH UMUR DI WILAYAH HUKUM POLRES METRO JAKARTA SELATAN

A. Latar Belakang
Anak adalah bagian dari generasi muda sebagai salah satu sumber daya manusia yang merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa, yang memiliki peranan strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus, memerlukan pembinaan dan pengarahan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial secara utuh serasi, selaras, dan seimbang. Untuk melaksanakan pembinaan dan memberikan perlindungan terhadap anak diperlukan dukungan, baik yang menyangkut kelembagaan maupun perangkat hukum yang lebih mantap dan memadai. Disadari bahwa pengawasan sosial semakin banyak secara formal, melalui hukum, peraturan, dan perintah yang ditegakkan oleh polisi, pengadilan, dan penjara. Pengawasan sosial informal yang lemah banyak mengakibatkan meningkatnya kekacauan pribadi, seperti tercermin dalam kenakalan anak, kejahatan, pelacuran, ketagihan minuman keras dan narkoba, bunuh diri, kelainan jiwa, keresahan sosial, dan kehidupan politik yang tidak stabil. Perkembangan di lingkungan masyarakat tidak hanya mempunyai fungsi ekonomi tetapi juga berfungsi sebagai tempat tumbuhnya pusat interaksi yang mempengaruhi nilai dan norma anggota masyarakat tersebut, dapat mendukung maupun menolak semua perubahan yang dirasakan, tidak sesuai bahkan mungkin cenderung melanggar norma atau hukuman. Sehingga hal ini menyebabkan terjadinya keresahan masyarakat menghadapi kenakalan remaja, kejahatan-kejahatan yang dilakukan dengan sadis dan kejam, di mana para pelakunya melibatkan bukan saja para remaja tetapi juga oleh anak-anak di bawah umur. Misalnya anak-anak pelajar sekolah baik tingkat SLIP maupun tingkat SMU yang ada ditengah-tengah masyarakat kita. Bentuk-bentuk kenakalan remaja berupa tindak pidana dengan kekerasan yang pada beberapa tahun sebelumnya masih dapat ditolerir, dan dianggap wajar ternyata telah berubah menjadi tindakan-tindakan kriminal yang sangat mengganggu dan meresahkan masyarakat. Masyarakat menuntut agar tingkah laku pelajar tersebut harus dikenakan sanksi pidana secara tegas. Mencermati fenomena yang terjadi di lingkungan anak-anak sekolah tersebut, maka kiranya perlu mendapatkan atensi secara khusus untuk dilakukan terobosan-terobosan baru guna menyelamatkan masa depan anak-anak pelajar sekolah ini. Karena bagaimanapun mereka adalah aset-aset bangsa yang akan meneruskan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia dimasa mendatang. Penanganan kenakalan remaja yang tidak tepat serta sikap keragu­raguan aparat penegak hukum dalam menangani kriminalitas yang dilakukan oleh pelajar sekolah, secara langsung maupun tidak langsung telah mendorong suatu penyimpangan sosial yang semakin jauh dari pelajar sekolah. Aparat kepolisian terkesan kehilangan konsep dalam menangani masalah kriminalitas dengan kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak pelajar sekolah. Oleh karena itu Polri sebagai pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat serta sebagai aparat penegak hukum dituntut untuk cepat tanggap dalam menjawab image negatif tersebut. Dari sinilah Polri harus mampu menunjukan profesionalismenya didalam mengatasi suatu problem yang sedang dihadapi masyarakat. Perlu disadari bahwa keberadaan petugas Polri akan sangat dirasakan oleh masyarakat apabila dalam pelaksanaan tugasnya dapat memberikan dampak positif untuk memenuhi keinginan masyarakat. Dalam hal ini yang diinginkan oleh masyarakat yaitu agar Polri dapat memberikan rasa aman, masyarakat merasa terlindungi baik secara moril yaitu perasaan tenteram akan terjaminnya keselamatan jiwa individu baik di lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja, dan perjalanannya maupun secara materi il berupa perlindungan harta benda dan tempat tinggal. Sebetulnya upaya untuk mengupas penyebab tindak kriminal yang dilakukan secara sadis dan brutal oleh anak sekolahpun telah dibahas oleh berbagai pihak yang peduli terhadap anak muda ini. Sejumlah pakar dari berbagai profesi dan kalangan telah melakukan analisa dan mengemukakan pandangan-pandangannya terhadap berbagai tindak penyimpangan yang dilakukan oleh anak-anak pelajar sekolah yang menurutnya telah mengalami suatu pergeseran yang sudah sangat membahayakan, dan mengganggu ketentraman kehidupan masyarakat. Adrianus Meliala, Seorang kriminolog dari Universitas Indonesia menyatakan pendapatnya bahwa brutalisme pelajar di kota- kota merupakan gejala baru dan akan selalu ada karena sistem sekolahan bersifat masif. Artinya, proses pembelajaran yang bersifat klasikal terkadang tidak menguntungkan bagi pendidikan. Hal ini disebabkan sekolah sudah bergeser fungsinya sebagai ‘kapitalisme pendidikan. ’ Ditambahkannya bahwa salah satu penyebabnya adalah sistem pendidikan nasional yang hanya mengedepankan aspek kognisi tanpa diimbangi pendidikan moral. Sementara itu, pelajar secara nyata di depan mata sering melihat banyak kejadian yang mencerminkan tindakan brutal atau melawan hukum yang dilakukan anggota masyarakat lain bahkan pejabat negara sendiri. Kebijakan pemerintah yang mengesampingkan kebutuhan sarana dan prasarana pendukung pendidikan juga dapat memicu tindakan brutal pelajar (Media Indonesia, Rabu 16 Januari 2008). Bahkan tindakan penyimpangan tersebut sudah termasuk sebagai tindak kriminal dan bukan lagi sebagai kenakalan remaja. Seperti peristiwa yang terjadi dijalan Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Lama, Jaksel pada hari kamis malam tanggal 8 November 2007. Sekelompok pelajar yang berjumlah sekitar 30 orang, membajak Metromini S-74 jurusan Blok M-Rempoa dan merampok para penumpangnya . Dalam kejadian tersebut seorang penumpang dibacok dan sebagian yang lainnya kehilangan sejumlah uang dan barang berharga lainnya. Dengan bantuan warga setempat, polisi berhasil menangkap 11 orang pelakunya. Polisi juga berhasil menemukan sebuah celurit bernoda darah, selain gunting, parang, dan keris. Para pelajar yang tertangkap tersebut berasal dari sekolah-sekolah di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat dan sekitarnya. Mereka adalah gabungan pelajar SMU dan SMK yang sering bertemu saat pulang sekolah (Jawa Pos, 8 November 2007). Tindakan-tindakan seperti itu merupakan tindakan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh pelajar . Pelajar sekolah adalah termasuk kelompok usia remaja, merupakan kelompok usia yang masih labil didalam menghadapi masalah yang harus mereka atasi. Dalam kondisi usia seperti ini, maka para pelajar cenderung mengedepankan sikap emosional dan tindakan agresif. Pada tahap ini adalah tahap dimana mereka sedang mencari jati dirinya masing­masing. Mereka berusaha agar diakui keberadaannya oleh pihak lain. Mereka mencoba mengidentifikasikan dirinya sebagai remaja yang berbeda di lingkungan sekitarnya, di sekolahnya, di jalan, bahkan dimasyarakat. Hal ini dilakukan dalam rangka mempromosikan diri mereka sendiri, suatu saat mereka bertemu dengan rekan-rekan yang bernasib sama, dengan sendirinya mereka akan membentuk suatu kelompok tertentu. Dilihat dari kaca mata pelajar, maka mereka menganggap bahwa tindakan yang telah mereka lakukan hanyalah suatu manisfestasi simbolik dari penyaluran aspirasi mereka sebagai konsekuensi dari perlakuan yang dirasakan tidak adil terhadapnya. Oleh karena itu maka perlu penanganan secara tepat terhadap para pelajar yang melakukan berbagai bentuk tindak pidana dengan kekerasan, termasuk dalam hal penegakan hukumnya. Upaya–upaya koordinasi antar berbagai pihak maupun instansi yang terkait perlu segera dilakukan, untuk mendapatkan suatu langkah atau cara yang terbaik didalam menangani dan menyelamatkan masa depan para pelajar sekolah yang bermasalah tersebut. Bagaimanapun pelajar merupakan aset bangsa yang tidak ternilai harganya, karena mereka merupakan pewaris masa depan bangsa dan negara pada masa yang akan datang. Apabila mereka tidak disiapkan sebaik mungkin dari saat sekarang maka masa depan bangsa dan negarapun akan terancam kehancuran dan kerusakan. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis terdorong untuk menulis penulisan hukum dengan judul : “PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA DENGAN KEKERASAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK PELAJAR SEKOLAH DI BAWAH UMUR DI WILAYAH HUKUM POLRES METRO JAKARTA SELATAN”.

B. Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah penegakan hukum terhadap tindak pidana dengan kekerasan yang dilakukan oleh anak pelajar sekolah di bawah umur di wilayah hukum Polres Metro Jakarta Selatan?
2.      Hambatan-hambatan apa dan bagaimana pemecahan masalah tersebut dalam rangka penegakan hukum terhadap tindak pidana dengan kekerasan yang dilakukan oleh anak pelajar sekolah di bawah umur di wilayah hukum Polres Metro Jakarta Selatan?








Memprihatinkan, Pelajar Terlibat Tindak Kriminal
Denpasar (Bali Post) -

Keterlibatan pelajar dalam tindakan kriminal -- empat pelajar geng motor main keroyok dan merampas (BP, 1/12) disayangkan sejumlah kalangan pendidikan. Kadis Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali Drs. I.B. Anom, M.Pd. dan Kabid Dikmen Disdikpora Kota Denpasar Drs. I Wayan Supartha, M.Pd., Kamis (1/12) kemarin mengatakan, pengawasan semua pihak perlu ditingkatkan agar pelajar tidak sampai melakukan tindakan melanggar hukum. ''Tak hanya sekolah, pengawasan penting dilakukan pihak keluarga,'' kata I.B. Anom.

Dikatakannya, sekolah hanya memiliki waktu terbatas untuk mengawasi anak-anak. Selebihnya, anak-anak menghabiskan waktunya di rumah dan di lingkungan masyarakat. Karena itu, orangtua maupun lingkungan hendaknya lebih optimal melakukan pengawasan. I.B. Anom menegaskan, terjadinya kasus kriminal yang dilakukan segelintir pelajar, bukan mencerminkan gagalnya sekolah melakukan pembinaan. Guru-guru atau sekolah tidak mungkin mengawasi siswa sampai 24 jam. Setelah jam pelajaran, tentu tanggung jawab pengawasan siswa berada di tangan orangtua, keluarga dan lingkungan masyarakat.

Hal senada disampaikan Kabid Dikmen Wayan Supartha. Ia menyayangkan keterlibatan pelajar dalam tindakan kriminal. Pengawasan semua pihak agar ditingkatkan. Lebih-lebih keterlibatan pelajar dalam tindak kriminal ini berlangsung pada malam hari, yang menjadi tanggung jawab orangtua dan keluarga. ''Proteksi sangat diperlukan, karena pada usia itu pelajar sedang mencari jati diri. Kalau hal itu tidak mendapatkan pengawasan yang baik, akan berpeluang dapat menimbulkan tindakan yang tidak kita inginkan bersama,'' ujar Supartha.

Supartha memandang perlu adanya penanaman nilai-nilai kemanusiaan dan budi pakerti dalam keluarga. Mengingat waktu anak-anak di sekolah sangat terbatas. Karena itu, kerja sama antara sekolah dengan orangtua dan masyarakat perlu ditingkatkan.

Pihak sekolah juga diharapkan melakukan pembinaan secara khusus terhadap siswanya yang terlibat tindak kriminal. Dengan demikian, siswa akan menyadari akan tugasnya sebagai pelajar dan menyadari hal yang dilakukan itu keliru. ''Anak-anak yang terlibat tindak kriminal harus diberikan pembinaan khusus,'' katanya. (08)







Keberingasan Pelajar Kian Meresahkan
Kamis, 27 September 2012 | 07:41 WIB
http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/icon_dibaca.gif
Dibaca: 10767
http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/icon_komentar.gif
|
http://assets.kompas.com/data/2k10/kompascom2011/images/ico_email001.gif
http://assets.kompas.com/data/2k10/kompascom2011/images/icon_twit_a.jpg
http://assets.kompas.com/data/2k10/kompascom2011/images/icon_fb_a.jpg
Share:
Keberingasan Pelajar Kian MeresahkanKOMPAS/Wisnu WidiantoroKerabat berusaha menghibur Suyanti (kanan) saat menunggu jenazah anaknya, Deni Januar, di Rumah Duka RSCM, Jakarta Pusat, Rabu (26/9). Deni adalah siswa SMA Yayasan Karya 66 yang tewas saat terlibat tawuran dengan siswa SMK Kartika Zeni. Tawuran tersebut terjadi di Jalan Minangkabau, Manggarai, Jakarta Selatan.
TERKAIT:
JAKARTA, KOMPAS.com - Belum kering tanah kubur Alawy Yusianto Putra yang meninggal akibat keberingasan pelajar pada Senin lalu, Rabu (26/9) siang, kembali terjadi tawuran yang menewaskan Deni Januar. Ironinya, kasus ini terjadi saat semua pihak berkomitmen mengakhiri tawuran.

Deni Januar (17), siswa kelas XII SMA Yayasan Karya 66 (YK), Kampung Melayu, Jakarta Timur, tewas terkena sabetan senjata tajam pelajar SMK Kartika Zeni (KZ). Deni meninggal saat terjadi tawuran di Manggarai, Jakarta Selatan. Kejadian ini mementahkan tekad Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh serta Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo untuk mengakhiri tawuran pelajar di ibu kota negara ini.

”Ini adalah kasus terakhir. Mulai hari ini akan kami dukung penuh agar tawuran tak terjadi lagi,” kata Nuh saat jumpa pers di SMAN 6, Bulungan, Jakarta Selatan, Selasa lalu.

Pernyataan sikap itu dideklarasikan pasca-tewasnya Alawy dalam perkelahian antara siswa SMAN 70 dan SMAN 6. Alawy adalah siswa kelas X di SMAN 6.

Tegakkan hukum

Meski demikian, Nuh di Markas Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan, kemarin malam, seusai menemui AU (17), pelajar tersangka kasus penusukan Deni, kembali menegaskan, sanksi hukum bagi anak-anak yang terlibat dalam kriminalitas, termasuk tawuran, harus ditegakkan.

Apabila hal ini tidak dilakukan, Nuh khawatir kejadian semacam ini akan terus menyebar karena muncul asumsi bahwa hukuman yang diberikan ringan.

”Semua opsi untuk menyelesaikan harus dibuka, termasuk sanksi hukum yang harus ditegakkan betul. Kalau sudah begini, harus diberikan hukuman yang setimpal, tetapi hak sebagai anak dilindungi,” tuturnya.

Nuh bertemu dan berbincang dengan AU secara tertutup di Markas Polres Jakarta Selatan. Ia mengajukan beberapa pertanyaan. Namun, Nuh mengaku sangat terkejut mendengar jawaban spontan AU yang mengatakan puas sudah membunuh korban.

”Siapa tidak terkejut. Membunuh orang puas. Saya tanya lagi, ’Apa benar puas setelah membunuh’? Dia jawab, ’Puas, Pak, tetapi saya agak menyesal’. Baru kata penyesalan itu keluar,” ungkap Nuh.

Berkaca dari jawaban itu, Nuh mengaku bahwa sekolah perlu dibantu karena menerima beban luar biasa tidak hanya mendidik, tetapi juga mengubah perilaku sosial siswa yang berat.

Sekolah tidak bisa langsung dipersalahkan karena terkadang, saat masuk sekolah, anak sudah membawa beban sosial yang luar biasa berat. Dia mengaku sedang berupaya memikirkan solusi untuk mengatasinya.

Sementara itu, dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi X DPR dan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto, ia dicecar berbagai pertanyaan. Intinya, tiga anggota Komisi X DPR, Dedi Gumilar, Zulfadli, dan Reni Marlinawati, mendesak Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta mencopot para kepala sekolah yang siswanya terlibat dalam perkelahian sehingga menyebabkan siswa lain tewas. Tindakan pencopotan para kepala sekolah sudah pantas dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik.

”Tindakan kriminal yang dilakukan para siswa itu bukan tindakan mendadak, tetapi sudah terakumulasi bertahun-tahun dan sudah menjadi tradisi pewarisan tindak kekerasan dari senior kepada yuniornya. Terus, ke mana saja para kepala sekolah itu?” kata Dedi.

Zulfadli menyampaikan hal senada. ”Kasus tawuran pelajar yang menewaskan siswa lain ini cermin kegagalan besar kepala sekolah. Dia gagal sebagai pendidik. Dia juga gagal sebagai manajer,” katanya.

Zulfadli dan Dedi juga mengkritik polisi yang dinilai melakukan tindakan pembiaran. ”Lalu, ke mana intelijen polisi? Ke mana fungsi kepolmasan polisi?” ucap Zulfadli.

Taufik Yudi Mulyanto, yang dihubungi secara terpisah menanggapi kritik dan kecaman para wakil rakyat itu, mengucapkan terima kasih. Dalam waktu dekat, lanjutnya, OSIS di kedua sekolah itu akan mengadakan sejumlah kegiatan sosial dan kesenian.

Negara absen

Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Dwi Rio Sambodo, mengatakan, terus berulangnya tawuran pelajar yang memakan korban karena pihak-pihak terkait tidak optimal melakukan pencegahan.

”Dalam hal ini, negara terkesan absen dalam problematika tawuran pelajar. Selama bertahun-tahun, instansi-instansi terkait tidak melakukan pencegahan secara terintegrasi dan optimal,” katanya.

Penyelenggara pendidikan, yaitu sekolah di garda depan, suku dinas pendidikan, ataupun dinas pendidikan sebagai pemegang otoritas, juga gagal mentransformasikan substansi pendidikan. ”Isi kurikulum ataupun operasional pelaksanaannya sering kali terlihat sekadar formalitas di sekolah,” ujar Rio.

Koordinator Koalisi Pendidikan Lody Paat menambahkan, agar pendidik kembali berwibawa dan didengar serta bisa menjadi contoh baik bagi para siswa, seharusnya diterapkan aturan tegas disertai sanksi atas setiap pelanggaran.

Dua tawuran

Rabu kemarin, sedikitnya pecah dua perkelahian antarsiswa di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, dan di Jalan Komodor, Halim Perdanakusuma, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.

Data dari Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya, pada pukul 12.30 terjadi perkelahian antara siswa SMA YK dan SMK KZ yang keduanya berada di Jakarta Timur. Terjadi saling melempar batu di antara dua kelompok siswa dari dua sekolah itu di perbatasan antara Jalan Minangkabau dan Jalan Saharjo. Saksi mata yang juga siswa SMA YK, Reza Nuryaman (18), mengatakan, ia dan tujuh temannya dikeroyok oleh dua kelompok siswa SMK KZ.

Hasil penyelidikan polisi, Deni Januar ditemukan tewas di Jalan Payahkumbuh yang berbatasan dengan Jalan Minangkabau. Menurut para saksi, Deni disabet dengan senjata tajam oleh salah satu siswa SMK KZ ketika menolong temannya yang terjatuh.

”Sudah ditangkap satu pelaku, AD, siswa SMK KZ, yang diduga membacok Deni. Alat bukti berupa celurit juga sudah diamankan,” kata Kepala Polres Jakarta Selatan Komisaris Besar Wahyu Hadiningrat didampingi Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Hermawan.

Polisi juga menahan dua siswa dari SMA YK, yaitu FD dan TT. Polisi kini masih mengejar EK dan GL, siswa SMK KZ yang juga terlibat perkelahian.

Sementara itu, di Halim Perdanakusuma, satu orang siswa, Susilo (15), mengalami cedera berat di bagian punggung akibat terkena sabetan benda tajam. Susilo yang merupakan siswa kelas I Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Mardhika, Jalan Raya Condet, Kramat Jati, langsung dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia, Cawang, oleh dua kawannya.

Menurut beberapa teman satu kelasnya, sebelum jam istirahat pertama, Susilo izin ke guru piket untuk menyusul temannya, Rahmat dan Faturohim, yang izin pulang ke rumah untuk mengambil surat keterangan tidak mampu. Surat itu akan digunakan untuk memperoleh keringanan biaya sekolah.

Salah seorang teman sekelasnya, AR (15), mengungkapkan, tiga sekawan itu kemudian berangkat dengan menumpangi satu sepeda motor yang dikendarai Rahmat. Namun, di tengah jalan mereka berhenti untuk buang air kecil di pinggir Jalan Komodor.

Ketika ketiga siswa itu buang air kecil, tiba-tiba datang sejumlah siswa berseragam warna biru sambil mengacungkan senjata tajam mendekati mereka. Ketiganya kemudian dianiaya. (NEL/RAY/MDN/GAL/ eln/rts/FRO/PIN/WIN)

Berita terkait peristiwa ini dapat diikuti dalam topik "Tawuran Pelajar Memprihatinkan"









Kriminalitas anak usia dini
Posted on October 14, 2012
Nama               : Prima Maryan
Fak / Jur          : Ekonomi / Manajemen
NIM                : 01211129
Tingkat Pelaku Kriminalitas Anak Usia Dini Di Indonesia
Anak adalah sebuah ladang subur bagi setiap orang tua untuk dapat ditanami dengan ilmu dan akhlak yang baik yang nantinya dapat menjadi bekal bagi anak mereka untuk dapat sukses dalam kehidupan mereka kelak, bagi orang tua anak  juga merupakan investasi untuk kehidupan dunia dan akhirat mereka kelak karena tentunya semua orang tua mengharapkan anaknya mampu menjadi orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat, Negara, dan agama.
Tetapi, bagaimana jika anak – anak yang kita cintai melakukan tindakan yang negatif yang dapat memberikan dampak kurang baik bagi hidup mereka. Karena pada saat ini banyak ditemukan kasus tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak usia dini mulai dari tawuran, mencuri, judi, pemerkosaan, narkoba, dan penganiyayaan. Yang sangat disayangkan apabila masa – masa mereka akan dihabiskan dalam tempat rehabilitasi atau sampai pada rumah tahanan.
Tentunya hal ini tak terlepas dari kewajiban orang tua, guru, dan pemerintah untuk memberikan pendidikan, pembelajaran, bimbingan moral dan pengetahuan kepada para calon generasi muda ini agar mereka dapat terhindar dari hal – hal yang dapat merugikan diri mereka sendiri.
Berikut merupakan beberapa contoh kasus yang merupakan tindakan criminal yang dilakukan oleh anak dibawah usia dini.
  1. Tawuran Pelajar
JAKARTA, KOMPAS.com – Penyidik Polres Metro Jakarta Selatan telah meminta keterangan enam orang siswa SMA Negeri 70 dan empat saksi korban dari SMA Negeri 6 terkait tawuran pada Senin, 24 September 2012, yang menewaskan Alawy Yusianto Putra.  Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Hermawan menjelaskan, dari hasil pemeriksaan sementara ada dua kesimpulan yang diperoleh polisi tentang penyebab tawuran. “Pertama, mereka mengatakan tawuran itu sudah jadi budaya di sekolah mereka, sudah berlangsung turun-temurun dari senior mereka,” terang Hermawan dalam keterangan pers di Mapolres Jaksel Senin (1/10/2012) sore. Dijelaskan Hermawan, karena siswa menganggap perseteruan itu sudah membudaya, mereka pun seakan sudah menganggap penyerangan terhadap lawannya sebagai hal yang lumrah. Penyerangan yang berakibat fatal pada Alawy, siswa SMAN 6 dianggap sebagai bagian dari pelaksanaan budaya negatif tersebut.  “Yang kedua, mereka punya batas daerah tertentu. Pihak sebelah dilarang memasuki daerah yang lain,” ujar Hermawan.  Misalnya, tutur dia, siswa SMA 6 dilarang memasuki Jalan Bulungan, yang menjadi wilayah SMA 70. Demikian pula, Jalan Mahakam adalah teritori SMA 6 dan menjadi wilayah terlarang bagi siswa SMA 70.  Pelanggaran terhadap batas wilayah kekuasaan itu bisa langsung memicu tawuran. Saat kejadian pada Senin pekan lalu, disebutkan ada empat siswa SMA 6 yang melewati batas teritori tersebut dengan melintas masuk Jalan Bulungan.  Melihat kejadian itu, sejumlah siswa SMA 70 pun langsung mengadakan serangan. Kejadian itu kemudian diketahui oleh Fitra Ramadhani alias Doyok alias FR (19) dan rekan-rekannya yang saat itu masih berada di halaman sekolah. Mereka pun langsung menyerbu keluar dan mengambil perlengkapan tawuran yang biasanya disimpan di salah satu selokan.  “Terjadi beberapa kali saling serang, sekitar tiga kali bolak-balik. Pas serangan ketiga itulah FR berhasil masuk cukup jauh dan menyerang korban,” kata Hermawan.  Ia mengungkapkan, FR saat ini menghuni ruang tahanan dewasa karena usianya tergolong dewasa. Penerapan undang-undang yang diakan dikenakan pada FR pun tidak mengalami perubahan.  “Pasal 338 KUHP (pembunuhan) yang utama,” kata Hermawan.
  1. Penganiayaan yang dilakukan pelajar
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com — Lokasi yang diduga menjadi tempat penganiayaan pelajar di Bandar Lampung yang terekam di dalam video dan kemudian beredar di antara telepon seluler milik warga berhasil ditemukan. Lokasi penyiksaan itu berupa tanah kosong, dekat dengan salah satu gedung SMPN yang tergolong populer di Bandar Lampung. Menurut warga yang ditemui di lokasi itu, Kamis (6/10/2011) kemarin, Senin lalu, ia sempat melihat sekumpulan anak sekolah di lokasi tersebut. Namun, dia tidak menyangka jika ada penganiayaan. “Tidak ada suara tangis, hanya suara-suara tertawa saja, saya pikir ada yang ulang tahun,” ujar warga yang tidak mau disebut namanya. Dia juga menambahkan bahwa pelajar yang ada di video tersebut adalah pelajar dari SMPN 16 Bandar Lampung. Seperti yang diberitakan sebelumnya, warga Bandar Lampung dihebohkan dengan munculnya video penyiksaan pelajar SMP. Di dalam video berdurasi 15,17 detik ini, terdengar cacian yang tidak pantas diucapkan. Dalam video yang diduga direkam dengan ponsel ini juga terlihat seorang siswi ditampar, ditendang, dan dimaki-maki oleh seseorang yang memakai jaket dan celana jins. Dari suara-suara yang terdengar, kemungkinan yang merekam video tersebut adalah seorang anak laki-laki. Namun, hingga kini belum ada pernyataan dari aparat berwenang terkait temuan video penyiksaan tersebut. Demikian pula halnya dengan para pelaku, yang belum diketahui identitasnya.
  1. Pencurian oleh pelajar
Liputan6.com, Medan: Sebanyak tiga pelajar sekolah menengah umum dibekuk karena mencuri uang Rp 5 juta di Medan, Sumatra Utara, baru-baru ini. Ketiga anak yang berbeda sekolah mengaku awalnya mereka bertemu di depan kios milik Marbun, di dekat Universitas Nommensen Medan, saat sama-sama bolos. Ketika membolos itulah, terlintas di pikiran mereka, banyak kesempatan memperoleh uang dalam sekejap. Diincarlah kios Marbun. Saat pemilik kios pergi ke belakang, seorang di antara mereka mencuri uang. Sementara yang lain mengawamati situasi.
Sekali berhasil menggasak duit, mereka pun keranjingan hingga beraksi tiga kali di kios yang sama. Pada aksi pertama, mereka berhasil menggondol Rp 2,5 juta. Berikutnya, mereka berhasil mencuri Rp 1,5 juta. Dua aksi pertama ini dilakukan selama April silam. Uang hasil curian dipakai untuk berfoya-foya dan membeli sepatu, celana, serta kaos. Pada aksi ketiga mereka mencoba menggasak uang Rp 1 juta dari laci kios. Pada aksi ketiga inilah, mereka tertangkap basah. Kasus pelajar mencuri ini bukan yang pertama terjadi. Bahkan, beberapa kasus pencurian di kalangan remaja tidak dilatarbelakangi motif mendapatkan kekayaan. Motifnya bisa juga soal gengsi. Seperti yang dilakukan Yoyo, siswa sekolah menengah kejuruan di Cimahi, Bandung, Jawa Barat, sebulan silam. Dia nekat mencuri sepeda motor karena ingin “gagah-gagahan” di jalanan seperti temannya http://news.liputan6.com/read/59159/mencuri-uang-tiga-pelajar-pembolos-dibekuk
Contoh kasus diatas merupakan segelintir saja perilaku kriminalitas yang dilakukan oleh anak – anak usia dini dari data Badan Komisi Perlindungan anak mencatat pada sepanjang kuartal pertama tahun 2012 tercatat 2.008 kasus kriminalitas yang dilakukan anak usia dini. http://hizbut-tahrir.or.id/2012/08/26/anak-berlaku-kriminal-salah-siapa/. Merujuk data layanan pengaduan masyarakat melalui  Hotline Service dalam bentuk pengaduan langsung, telephone, surat menyurat maupun elektronik, sepanjang tahun 2011 KomNas Anak  menerima 2.386 kasus. Sama artinya bahwa setiap bulannya KomNas Anak menerima pengaduaan masyarakat kurang lebih 200 (dua ratus) pengaduan pelanggaran terhadap hak anak. Angka ini meningkat 98% jika dibanding dengan pengaduan masyarakat yang di terima Komisi Nasional Perlindungan Anak pada tahun 2010 yakni berjumlah 1.234 pengaduan.  Dalam laporan pengaduan tersebut,  pelanggaran terhadap hak anak  ini tidak semata-mata pada tingkat kuantitas jumlah saja yang meningkat, namun terlihat semakin komplek dan beragamnya modus pelanggaran hak anak itu sendiri. Pengaduan hak asuh (khususnya perebutan anak pasca perceraian) http://komnaspa.wordpress.com/2011/12/21/catatan-akhir-tahun-2011-komisi-nasional-perlindungan-anak/.
Angka – angka diatas bukan merupakan angka yang tidak ada artinya akan tetapi angka – angka tersebut adalah bentuk dari kelalaian orang tua, para pengajar, dan pemerintah yang kurang memperhatikan dan melindungi hak anak sehingga anak- anak yang harusnya dapat menjadi tonggak kuat sebuah Negara akan dapat hancur begitu saja kare kita semua lalai dalam mengasuh dan mendidik mereka. Anak bagaikan selembar kertas putih yang dimana siap diisi tulisan dengan berbagai tinta – tinta kehidupan yang baik untuk mereka.

2 komentar:

† Édï§öñ™ † mengatakan...

kau jelek

† Édï§öñ™ † mengatakan...

sangat jelek

Poskan Komentar

Best 1 Seller Book

Best 1 Seller DVD

Best 1 Seller VHS

Best 1 Seller Game Download

Best 1 Seller Music

MUSIC MP3

Best 2 Seller Book

Best 2 Seller DVD

Best 2 Seller VHS

Best 2 Seller Game Download

Best 2 Seller Music

Best 3 Seller Book

Best 3 Seller DVD

Best 3 Seller VHS

Best 3 Seller Game Download

Best 3 Seller Music

Best 4 Seller Book

Best 4 Seller DVD

Best 4 Seller VHS

Best 4 Seller Game Download

Best 4 Seller Music